PERJUANGAN DARI TUTUP KEPALA : PECI SEBAGAI SIMBOL PERLAWANAN PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL TAHUN 1921-1949

Tiwi Sumanti (2021), PERJUANGAN DARI TUTUP KEPALA : PECI SEBAGAI SIMBOL PERLAWANAN PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL TAHUN 1921-1949. Skripsi, Universitas Samudra.

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara yang unik karena memiliki masyarakat yang kaya akan keberagaman budaya, salah satunya ialah penutup kepala yang hadir dibeberapa daerah. Pada abad ke-20 muncul pengaruh barat terhadap cara berpakaian kaum laki-laki di Indonesia. Sebagian menerima dengan baik busana Eropa dan sering memakainya dalam acara-acara tertentu, walaupun demikian masih banyak kaum laki-laki yang memakai busana tradisional. Soekarno memperkenalkan penggunaan peci beludru hitam sebagai lambang Indonesia merdeka. Peci menjadi sebuah simbol perlawanan untuk mempersatukan bangsa Indonesia melawan penjajah dan kelompok intelektual yang merendahkan peci sebagai simbol nasionalisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang penggunaan peci pada masa pergerakan nasional tahun 1921-1949 dan mengetahui nilai-nilai perlawanan seperti apa yang muncul dalam penggunaan peci pada masa pergerakan nasional tahun 1921-1949. Metode yang digunakan ialah metode penelitian sejarah atau metode historis dengan pendekatan kepustakaan atau library research. Berdasarkan metode sejarah terdapat 4 tahapan yang akan dilakukan yakni; heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Hasil dari penelitian ini ialah pemerintah Belanda melakukan intimidasi terhadap busana yang dipakai oleh pribumi pada sekolah kedokteran pribumi atau STOVIA. Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan bahwa siswanya diwajibkan memakai pakaian sesuai daerahnya masing-masing dan melarang untuk memakai pakaian Eropa. Terlihat jelas bahwa Belanda ingin memecah belah persatuan bangsa Indonesia dengan membedakan atas dasar etnis dan strata sosial. Pada tahun 1921 saat rapat Jong Java diselenggarakan di Bandung. Soekarno mendengar percakapan yang dilakukan oleh kelompok intelektual, mereka merendahkan peci yang biasa dipakai rakyat kalangan bawah. Soekarno memperkenalkan peci sebagai lambang nasionalisme. Menurutnya istilah peci berasal dari penjajah bangsa Indonesia ialah Belanda yang dalam bahasanya ‘pet’ berarti kopiah, ‘je’ artinya kecil, demikian kata ‘petje’. Soekarno menganggap peci sebagai simbol penyetaraan antara bangsa Indonesia dengan penjajah. Terdapat nilai-nilai perlawanan yang muncul dalam penggunaan peci antara lain; nilai-nilai perlawanan sosial budaya, nilai-nilai perlawanan politik, nilai-nilai perlawanan keagamaan, dan nilai-nilai nasionalisme.

Kata kunci : Perjuangan, Peci, Pergerakan Nasional, Nilai-nilai Perlawanan

File ::(login required)
Tipe Items : Skripsi
Penulis/Penyusun : Tiwi Sumanti
Fakultas : Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan
Program.Studi : Pendidikan Sejarah (2021)
Tanggal disimpan : 24-08-2021 12:34
Terakhir diubah : 24-08-2021 06:13
Penerbit : Langsa, Universitas Samudra, 2021
URI : https://etd.unsam.ac.id/detail.php?id=1563
Root : https://www.unsam.ac.id
Kembali ke atas!